Rabu, 03 April 2013

contoh tugas petanyaan pemandu geografi




TUGAS PERTANYAAN PEMANDU


BANJIR

Warga Perumahan Puri Kartika, Ciledug, berusaha selamatkan barangnya dan mengungsi akibat banjir luapan Sungai Pesanggrahan, yang hampir 1 meter tinggi air masuk rumahnya, Rabu (3/4/2012). (TRIBUN Jakarta/FX Ismanto) 

Berita Terkait: Banjir di Jakarta
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banjir yang melanda kota Jakarta sejak Senin hingga Rabu kemarin menimbulkan tanda tanya. Banyak sungai seperti Kali Pesanggrahan, Krukut juga Angke dan sebagian Ciliwung meluap.
Padahal, curah hujan yang terjadi tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan saat banjir Jakarta tahun 1996 yang hanya tercatat 300 mm/hari serta tahun 2007 hujan 340 mm/hari.
Kuat dugaan banjir terjadi lantaran adanya pendangkalan sungai.
"Kapasitas debit sungai saat ini hanya mampu menampung 20% dari debit banjir yang ada. Adanya penyempitan dan pendangkalan sungai menyebabkan sekitar 80% debit sungai menjadi banjir yang menggenangi permukiman," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho kepada Tribunnews.com, Kamis(5/4/2012).
Sutopo mengatakan, luas Daerah Aliran Sungai(DAS) Pesanggrahan sebesar 177 km2. Hulunya di perumahan Budi Agung, Tanah Sereang Kota Bogor, dan hilir bertemu dengan Cengkareng Drain.
Hampir 70% kawasan terbangun dari luas DASnya. Permukiman padat sekitar 45% dari luas DAS tersebar di bagian hilir, mulai dari Kebayoran Lama, Kedoya dan Kebon Jeruk Jakarta Barat. Kawasan hijau hanya 7% dan tidak merata.
Sedangkan luas DAS Angke 239 km2 dengan hulu di perumahan Yasmin Bogor kemudian melewati Parung, Bojonggede, Ciputat, Serpong dan bermuara di Mookevart. Hampir 60% dari luas DAS adalah permukiman padat. Sisanya tegalan, lahan kosong, semak. Tidak ada hutan.
"Dengan kondisi tutupan lahan yang demikian maka hujan yang turun hampir 70% langsung menjadi limpasan permukaan. Buruknya drainase dan sungai maka tidak mampu mengalirkan limpasan permukaan. Kapasitas debit sungai saat ini hanya mampu menampung 20% dari debit banjir yang ada," kata Sutopo.
Dengan kondisi tersebut lanjut Sutopo suatu hal yang wajar jika terjadi banjir. Justru akan aneh jika tidak banjir karena dari sistem hidrologi memang sudah tidak seimbang
Guna mengatasi banjir di Kali Pesanggrahan dan sekitarnya berdasarkan catatan Sutopo, pemerintah telah mengalokasikan dana Rp 2,3 triliun. Dana tersebut  untuk normalisasi tiga sungai yaitu Pesanggrahan, Angke dan Sunter dan pelaksanaannya dimulai tahun 2011-2014.
"Pertahun dialokasikan Rp 600 miliar yang dilakukan oleh Kementerian PU dan Pemprov DKI, PU menangani aspek teknis untuk konstruksinya, dan DKI untuk masalah pembebasan lahan. Atau untuk Kali Pesanggrahan dan Angke sekitar Rp 400 milyar," jelas Sutopo.
Dengan normalisasi,menurut Sutopo kapasitas debit sungai meningkat empat kali lipat dari debitnya pada saat ini. Pada tahun ini akan dilakukan normalisasi Kali Pesanggrahan sepanjang 8 km dan Kali Angke 6 km. Total normalisasi Kali Pesanggrahan 26,7 km dengan melebarkan sungai dari 10-15 meter pada saat ini menjadi 30-40 meter.
Akibatnya debit sungai akan meningkat dari 30 m3/detik menjadi 220,3 m3/detik. Normalisasi Sungai Angke dilakukan sepanjang 20 KM, dengan melebarkan dari 10-15 meter menjadi 27-30 meter pada akhir 2014. Kapasitas debit air juga akan meningkat dari 16 m3/detik menjadi 200 m3/detik.
"Namun keberhasilan normalisasi tersebut sangat tergantung juga peran serta masyarakat dan dunia usaha. Sebab saat ini banyak masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Bahkan tidak sedikit yang rumah dibangun di dalam badan sungai sehingga masalah pembebasan lahan sangat berperan keberhasilan program mengatasi banjir," pungkasnya.


Editor: Willy Widianto
disalin pada kamis 27 September 2012 pukul 19.21 WIB.

Pertanyaan Pemandu
  1. Apa peristiwa yang terjadi ?
Peristwa yang terjadi adalah banjir yang terjadi di kota.
  1. Dimana ristiwa tersebut terjadi ?
Peristiwa tersebut terjadi di Perumahan Puri Kartika, Ciledug, Jakarta.
  1. Siapa yang terlibat atas peristiwa tersebut ?
Yang terlibat atas peristiwa tersebut tidak bisa dipastikan karena adanya keterkaitan antara pihak satu dengan yang lain. Utamanya adalah masyarakat kota sendiri yang tidak peduli terhadap lingkungan dan Pemerintah yang kurang berpartisipasi karena peristiwa tersebut terlihat dari lempar tanggug jawab antara instansi satu dengan instansi yang lain.
  1. Kapan peristiwa tersebut terjadi ?
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (3/4/2012) namun mulai tanggal  (1/4/2012) banjir tersebut sudah mulai meluap.
  1. Menagapa peristiwa tersebut bisa terjadi ?
Peristiwa tersebut bisa terjadi karena meluapnya berbagai sungai seperti sungai Pesanggrahan, Krukut, Angke, dan sebagian Ciliwung akibat hujan yang melanda Jakarta, padahal curah hujan tersebut menurut data yang ada tidak begitu tinggi dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal utama yang menyebabkan terjadinya banjir adalah pendangkalan di sebagian sungai sehingga kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air yang ada. Akhirnya dengan hujan yang tidak begitu deras pun berbagai sungai akan cepat meluap dan terjadilah banjir.
  1. Bagaimana peristiwa tersebut bisa terjadi ?
Peristiwa tersebut terjadi akibat banyak sungai di Jakarta mengalami pendangkalan dan penyempitan. Hal tersebut tidak sebanding dengan debet air yang ada, selain itu banyak juga pinggiran sungai yang digunakan untuk pemukiman warga sehingga sampah yang dibuang juga menghambat aliran sungai. Menurut pendapat dari narasumber banjir yang terjadi juga disebabkan dengan sistem drainase yang kurang baik, sedikitnya taman kota atau pepohonan yang gunanya sebagai tahanan air hujan agar tidak langsung ke permukaan tanah, kurangnya lahan kosong untuk peresapan air hujan dan akibat gejala alam yang tidak seimbang. Dengan hujan yang terjadi walaupun curah hujannya tidak begitu tinggi maka air di sungai cepat sekali meluap karena ketidak seimbangan antara kapasitas penampungan air disungai dan debit air yang ada. Akibatnya banjir meluap dan menggenangi perumahan warga selama beberapa hari dan peristiwa tersebut terjadi hampir setiap tahun. Dampak dari banjir yang terjadi di sekitar sungai Pesanggrahan cukup banyak, salah satunya adalah penyakit yang terjadi setelah selesainya banjir semisal muntaber, demam, berbagai penyakit kulit dan masih banyak lagi.
  1. Berapa banyak alokasi dana yang dibutuhkan untuk menanggulangi akibat terjadinya peristiwa tersebut ?
Menurut narasumber alokasi yang dikeluarkan Pemerintah dalam penanggulangan banjir di Jakarta khususnya kali pesangrahan selama tahun 2011 sampai 2014 adalah 2,3 triliyun rupiah. Dan dari Kementrian PU serta Pemprov DKI sendiri sekitar 600 milyar per tahun untuk penanggulangan banjir dan pembebasan lahan di sekitar kali Pesanggrahan. Alokasi tersebut belum termasuk bantuan kepada korban banjir yang terkena genangan air, jadi masih banyak sekali dana yang dikeluarkan oleh Pemrintah untuk mengatasi banjir di wilayah Jakarta khusunya daerah bantaran kali Pesanggrahan.



" 4605+17=  ; - )   "





Pandangan Geografi IPS


ARTIKEL GEOGRAFI IPS

Hakikat dan Ruang Lingkup Ilmu Sosial dan Budaya Dasar

Materi Ilmu Sosial Dasar terdiri atas masalah-masalah sosial. Masalah-masalah sosial yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan sosial yang antara satu dengan lainnya saling berkaitan. Konsorsium Antar Bidang telah menetapkan bahwa Ilmu Sosial Dasar terdiri dari 8 pokok bahasan. Pokok bahasan tersebut merupakan ruang lingkup Ilmu Sosial Dasar yang diharapkan mempelajari dan memahami tentang :
1. Berbagai masalah kependudukan dalam hubungannya dengan perkembangan masyarakat dan kebudayaan.
2. Masalah individu, keluarga dan masyarakat.
3. Masalah pemuda dan sosialisasi.
4. Masalah hubungan antara warga negara dan negara.
5. Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat.
6. Masalah masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan.
7. Masalah pertentangan-pertentangan sosial dan integrasi.
8. Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

            Ruang lingkup kajian mata kuliah Ilmu Budaya Dasar ditentukan oleh dua masalah pokok sebagai bahan pertimbangan yaitu:
- Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya( the Humanities).
- Dalam melihat dan menghadapi lingkungan alam, sosial dan budaya, manusia tidak hanya mewujudkan kesamaan-kesamaan, akan tetapi juga ketidak seragaman yang diungkapkan secara tidak seragam, sebagaimana yang terlihat ekspresinya dalam berbagai bentuk dan corak ungkapan, pikiran, dan perasaan, tingkah laku, dan hasil kelakuan mereka.

Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Sebagai Mata Kuliah Kehidupan Bermasyarakat
Ilmu Sosial dan Budaya Dasar sebagai mata kuliah kehidupan bermasyarakat merupakan usaha yang diharapkan dapat memberi pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Setelah mendapatkan mata kuliah ini diharapkan memperlihatkan minat dan kebiasaan menyelidiki apa-apa yang terjadi disekitarnya dan diluar lingkungannya juga keberanian moral untuk mempertahankan nilai-nilai yang dirasanya sudah dapat diterimanya dengan penuh tanggung jawab. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar semata-mata sebagai salah satu usaha mengembangkan kepribadian mahasiswa dengan cara memperluas pemikiran serta kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya, baik yang menyangkut orang lain dan alam sekitarnya. Agar mahasiswa peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap untuk ikut serta dalam usaha menanggulanginya.


Komentar Berdasarkan Sudut Pandang Geografi
            Dari 8 pokok bahasan dalam Ilmu Sosial Dasar terdapat banyak masalah yang timbul dalam masyarakat utamanya di masyarakat Indonesia. Salah satu diantaranya adalah masalah tentang kependudukan, masalah kependudukan sangat riskan terjadi karena penduduk saat ini sudah cukup banyak, angka kelahiran rata-rata lebih tinggi daripada angka kematian sehingga membuat penduduk menjadi semakin padat. Dengan kepadatan penduduk ini maka akan mengakibatkan berbagai permasalahan sosial utamanya di daerah kota, salah satunya adalah semakin bertambahnya pemukiman kumuh, hal ini terjadi karena daerah pemukiman sudah tidak sanggup lagi untuk menampung banyaknya penduduk yang ada sehingga mereka membangun pemkiman disekitar aliran sungai, sekitar rel kereta api, dan biasanya di dekat pemakaman. Dampak dari pemukiman kumuh ini cukup banyak karena tidak hanya menyangkut tentang manusia saja melainkan juga dengan lingkungan alam sekitar. Alam sekitar akan menjadi tidak nyaman karena banyak pohon yang ditebang, selain itu tanah juga tidak subur lagi karena banyaknya sampah yang menumpuk di pekarangan daerah pemukiman akibatnya daerah resapan tanah menjadi berkurang dan hal ini sebagai penyebab timbulnya berbagai penyakit.
            Kepadatan penduduk di daerah kota merupakan akibat dari banyaknya orang desa yang mengadu nasib disana, mereka menganggap di kota besar akan mudah untuk mencari penghasilan tetapi penghasilan yang didapatkanpun tidak begitu besar mereka rata-rata bekerja sebagai penjual, kuli bangunan, dan pemulung hasilnya boleh dibilang pas-pasan saja namun entah mengapa mereka masih menganggap kota besar mudah untuk mendapatkan penghasilan. Di kota memang mudah dalam berbagai hal seperti keterjangkaun dalam transportasi, kemudahan dalam bidang komunikasi dan teknologi, banyaknya industri dan pabrik-pabrik besar dan lain-lain, namun dibutuhkan ketrampilan dalam dalam menjalankan berbagai hal di atas, tetapi ketrampilan tersebut tidak sepenuhnya dikuasai oleh para pendatang atau orang-orang desa yang bermukim di kota sehingga mereka hanya bekerja dengan mengandalkan tenaga fisik saja. Masalah kependudukan tidak hanya terjadi di kota saja, di daerah terpencil seperti daerah dekat hutan dan daerah sekitar lereng pegunungan juga mengalaminya, permasalahan utama tetap banyaknya angka kelahiran daripada angka kematian. Permasalahan yang sering terjadi di daerah tersebut adalah kelaparan dan kekeringan, permasalahan itu terjadi akibat semakin berkurangnya sumber makanan karena lahan yang biasanya untuk bercocok tanam menjadi kering dan tidak bisa ditanami akibat gejala alam yang terjadi. Jadi dengan semakin banyaknya penduduk di daerah kota maupun desa  maka dampak yang terjadi dalam masyakat dan alam sekitar sangat banyak dan bersifat saling berkaitan hal ini dalam geografi disebut sebagai pendekatan kompleks wilayah.
            Masalah-masalah lain mengenai kependudukan selain yang diuraikan diatas adalah Angka ketergantungan yang semakin tinggi maksudnya adalah usia kerja yang produktif (16-65 tahun) tidak sebanding dengan usia yang belum produktif (1-16 tahun) dan yang sudah tidak produktif (65 tahun keatas), masalah lain adalah kurang meratanya penduduk di wilayah indonesia, hal ini disebabkan karena terjadi pemusatan industri dan pemerintahan di daerah Jawa, sehingga daerah lain seperti Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Irian dan sebagainya penduduknya relatif  jarang. Masalah lainnya mengenai Administrasi tentang Kependudukan yang lumayan sulit, biasanya dengan padatnya penduduk sering terjadi kesalahan pencatatan atau terdapat data yang ganda.
            Untuk mengatasi berbagai masalah yang diuraikan diatas  maka dibutuhkan kordinasi antara Pemerintah dengan masyarakat. Pemerintah bertugas untuk membuat keputusan atau peraturan yang harus benar-benar dilaksanakan sehingga permasalahan tersebut bisa cepat terselesaikan. Sedangkan masyarakat bertugas untuk melaksanakan keputusan atau peraturan tersebut dengan penuh kesadaran agar masalah kependudukan tersebut semakin mudah untuk dicari jalan keluarnya. Secara spesifik masalah kependudukan tentang kepadatan penduduk bisa diatasi dengan menjalankan program KB, menekan angka urbanisasi yang terjadi di kota besar serta mengurangi perkawinan dini. Jika masalah mengenai kepadatan penduduk sudah merambah ke lingkungan hidup maka cara mengatasinya dengan memperbaiki sistem sosial kemsyarakatan yang dimulai dari diri sendiri, misalnya dengan tidak membuang sampah di sungai atau tempat sembarangan dan tidak menebang pohon yang mempunyai fungsi untuk penyerapan air hujan. Untuk mengatasi masalah tentang angka ketergantungan yang semakin tinggi maka cara yang paling baik dilaksanakan adalah memberbanyak lapangan pekerjaan dan membekali tenaga kerja dengan ketrampilan yang dibutuhkan. Masalah selanjutnya mengenai tidak meratanya penduduk karena adanya pemusatan industri dan pemerintah bisa diatasi dengan melaksanakan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya  ke daerah yang masih sedikit penduduknya, cara yang lain adalah pemusatan industri tidak dijadikan satu dengan pemusatan kepemerintahan contoh nyatanya adalah yang terjadi di Amerika Serikat, Kota New York sebagai pusat industri tidak dijadikan pusat pemerintahan melainkan kota Washington DC yang tidak menjadi pusat industri dijadikan sebagai pusat pemerintahan. Dan masalah tentang kesulitan Administrasi Kependudukan bisa diatasi dengan memperbaiki sistem kerja instansi terkait.
            Kesimpulan yang didapat dari berbagai uraian yang telah disampaikan adalah salah satu masalah yang di pelajari dalam studi Pendidikan IPS adalah masalah kependidikan. Dampak dari masalah kependudukan tersebut bisa saling terkait satu sama lain atau dalam geografi disebut sebagai pendekatan obyek wilayah. Dan cara untuk untuk mengatasi berbagai permasalahan kependudukan bisa diatasi jika terjadi kordinasi yang baik antara pemerintah dengan masyarakat.

Hubungan IPS dengan Kehidupan Sehari-hari




TEMPAT PERDAGANGAN DI AREA YANG STRATEGIS
LAPORAN OBSERVASI
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Pengantar Antropologi
Yang dibina oleh Bapak Drs. Irawan, M.Hum.

Oleh:
Agus Budi Prasetyo 120741404069
Pendidikan IPS Fakultas Ilmu Sosial (UM)
  

1. Kehidupan Sosial Ekonomi di Area Perdagangan/Penjualan dan Kaitannya dengan Ilmu-Ilmu Sosial
Disepanjang kawasan Jalan Veteran Kota Malang merupakan salah satu pusat perekonomian dan pusat keramaian yang aktivitasnya dari pagi, siang hingga malam serasa tidakberhenti.Disepanjang kawasan ini terdapat berbagai tempat faforit untuk wisata belanja, contohnya adalah MATOS (Malang Town Square) yang merupakan ikon dari Kota Malang pada saat ini. Selain itu masih banyak lagi tempat-tempat sebagai pusat keramaian, antara lain adalah MX, Sekolah-Sekolah Negeri faforit, Universitas Brawijaya dan Universitas Negeri Malang, Taman Makam Pahlawan, Play Ground (tempat bermain anak-anak), dan sebagainya.
Di salah satu jalan menuju Play Ground dan barat Taman Makam Pahlawan terdapat sekelompok pedagang/penjual aneka makanan dan aneka minuman, serta terdapat pula jasa tambal ban yang ingin mendapatkan rejeki dari ramainya kawasan ini.Area tersebut memang sangat strategis untuk dijadikan area perdagangan  karena jalan menuju Play Ground ini sebagai akses mahasiswa dan pelajar menuju kampus dan sekolah serta jalan untuk karyawan yang menuju tempat kerja, sehingga area tersebut ramai didatangi orang untuk membeli dagangan dari para pedagang.
Terdapat kurang lebih 5 pedagang/penjual yang menempati area tersebut untuk menjajakan dagangannya.Diantaranya adalah penjual makanan dan minuman ringan, penjual rujak buah, penjual rokok, dan sebagainya. Mereka memulai aktivitas penjualan sekitar jam 7 pagi, namun ada  yang memulainya lebih siang lagi. Ada juga sebagian pedagang yang kurang dari jam 6 pagi sudah mempersiapkan lapak dagangannya dengan membuat semacam atap dari terpal dan menggelar tikar untuk tempat para pembeli yang makan dan minum di area tersebut. Parapembeli  umumnya adalah mahasiswa yang kembali ke kost dan karyawan yang pulang dari tempat kerja, terkadang juga adasegerombol pelajar yang membeli disitu.
Sebagian pedagang biasanya mengakhiri dagangannya sekitar jam 5 sore, namun ada pedagang lain yang menggantikannya untuk menjajakan dagangan di malam hari nanti. Jadi ada semacam pergantian yang sudah diatur oleh para pedagang sehingga area ini tidak pernah sepi.Tetapi apabila cuaca tidak baik maka jumlah pedagangnya juga sedikit karena secara otomatis jarang ada pembeli.
Puncak keramaian di area tersebut terjadi pada malam hari terutama malam minggu dengan cuaca yang cerah atau tidak hujan.Di malam hari ini terdapat banyak anak muda yang berkumpul sekedar minum kopi dengan berbincang-bincang bersama temannya.Namun di area tersebut seperti tiada pembeda antara laki-laki dan perempuan, karena mereka berkumpul dan membaur menjadi satu dalam sekelompok besar maupun kecil, tidak jarang ada juga perempuan yang merokok dan hingga larut malam masih berada di area tersebut. Di kalangan anak muda Kota Malang hal semacam ini dianggap wajar karena kebudayaan kota memang seperti itu, malah jika ada anak muda yang tidak mengikuti kebudayaan itu dianggap kurang pergaulan dan ketinggalan jaman.
            Dari uraian diatas maka kita bisa mengkaitkan kehidupan sosial ekonomi di area perdagangan/penjualan tersebut dengan ilmu-ilmu sosial utamanya ekonomi, sosiologi, geografi dan antropologi.Dalam kaitannya dengan ilmu ekonomi adalah area perdagangan yang telah diuraikan tadi merupakan tempat transaksi antara pedagang dan pembeli atau bisa disebut pasar.Dan area tersebut merupkan tempat bagi pedagang untuk mencari penghasilan guna mencukupi kebutuhan keluarga (penggerak perekonomian masyarakat).
            Sedangkan kaitannya dengan ilmu sosiologi adalah area perdagangan tersebut bisa dikatakan sebagai kelompok sosial Gesellschaft (patembayan) artinya yaitu kelompok yang terjalin karena adanya ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu tertentu (yang pendek) atau bersifat kontraktual.Selain itu area yang ramai didatangi pembeli ini termasuk ke dalam lembaga sosial yaitu lembaga ekonomi.Di area tersebut terdapat juga macam-macam interaksi sosial yang terjadi dari berbagai kalangan terutama kalangan pemuda.Interaksi ini bisa terjadi karena seringnya mereka bergaul dalam suatu kelompok besar maupun kecil.
            Untuk kaitannya dengan ilmu geografi adalah strategisnya tempat yang dijadikan sebagai area perdagangan/penjualan itu merupakanbagian dari konsep esesensial geografi yaitu konsep keterjangkauan dan aglomerasi.Maksud dari konsep keterjangkauan ini adalah area perdagangan tersebut terletak di tempat yang strategis untuk dijangkau oleh masyarakat karena sebagai akses menuju tempat kerja dan sekolah atau kampus serta terletak disekitar pusat keramaian yaitu antara Taman Makam Pahlawan dan Play Ground.Sedangkan maksud dari konsep aglomerasi adalah terjadinya pengelompokan masyarakat disuatu tempat yang menjadi pusat kehidupan (dalam hal ini adalah pusat perekonomian dan pusat pendidikan) sehingga area perdagangan tersebut ramai untuk didatangi pembeli.
            Cabang ilmu sosial lain yaitu Ilmu antropologi khususnya Antropologi Sosial (budaya) yang notabena mempelajari tentang kelompok-kelompok manusia yang ada pada saat ini yang menggunakan cara hidup (budaya) tertentu juga bisa dikaitkan dengan kehidupan sosial ekonomi di area perdagangan/penjualan yang telah diuraikan diawal pembahasan tadi. Kaitanya berupa adanya suatu kebudayaan yang unik dari masyarakat kota khususnya untuk kalangan pemuda. Kebudayaan itu berupa adanya wanita muda yang suka bermain pada malam hari dan melakukan aktivitas sebagaimana laki-laki yaitu minum kopi dan merokok.
Menurut pandangan penulis, hal ini merupakan trend yang sedang terjadi pada kaum wanita muda dikota besar seperti Malang ini, bagi siapapun yang mengikuti trend ini maka bisa disebut trendy, gaul, dan sebagainya.Sedangkan yang tidak mengikuti trend ini bisa dikatakan tidak trendy, kurang pergaulan, jadul (jaman dulu) dan sebagainya.Memang hal ini dianggap tidak wajar bagi masyarakat pada umumnya terutama masyarakat desa yang masih mempunyai adap sopan santun. Namun bagi masyarakat kota hal semacam ini sudah dianggap biasa dan tidak menjadi masalah besar, karena berdasarkan salah satu ciri masyarakat kota yang dikemukakan oleh Parsons yaitu Netral Afektif dan Orientasi Diri atau masyarakat kota yang pada umumnya lebih menggunakan rasio dalam menyikapi suatu kejadian/masalah dan cenderung tidak memikirkan orang lain (individualis), sehingga tidak ada sanksi bagi mereka-mereka yang melakukan hal seperti itu.

2. Hasil Wawancara dengan Salah Seorang Pedagang
Nama : Pak Joko
Usia : 65 tahun
Tempat tinggal : Desa Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang
Penghasilan per hari : kurang lebih RP 100.000,00
            Bapak Joko ini merupakan salah satu pedagang yang sudah kurang lebih 5 tahun menjajakan dagangannya berupa rujak buah.Alasan beliau berdagang rujak buah di area ini adalah strategisnya tempat sehingga banyak juga pembelinya, beliau mulai kerja pada jam setengah 6 pagi sampai jam 4 sore kemudian lapaknya digantikan oleh anaknya yang juga berdagang di area tersebut.

3. Hasil Wawancara dengan Salah Satu Pembeli
Nama : Hafiduddin
Status/pekerjaan: Mahasiswa UM
Alasan membeli di area tersebut :
Untuk memenuhi kebutuhan makan karena harga di area penjualan tersebut lebih terjangkau.
Kesan-kesan kepada pedagang di area tersebut
·         Setiap manusia membutuhkan uang untuk menjalankan roda kehidupannya, jadi lakukanlah pekerjaan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab yaitu dengan menyediakan makanan dan minuman yang sehat, bergizi, dan bebas dari bahan kimia berbahaya dan tentunya halal. Selain itu untuk pedagang jangan lupa tetap menjaga kebersihan area penjualan agar memberi kenyamanan bagi pembeli.

4. Kesimpulan
            Dari berbagai uraian di atas maka kita bisa memperoleh pengetahuan baru yaitu terdapat keterkaitan antara kehidupan sosial ekonomi di area perdagangan/penjualan dengan  cabang dari Ilmu-Ilmu Sosial. Dengan demikian untuk pembelajaran Pendidikan IPS  tidak sepenuhnya merupakan integrasi dari disiplin Ilmu-Ilmu Sosial, melainkan dari kehidupan sosial masyarakat yang dikaitkan dengan Ilmu Sosial yang relevan sesuai bidangnya. Namun untuk mengetahui lebih dalam dengan pembelajaran Pendidikan IPS ini dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut, karena hanya dengan penelitian secara ilmiahlah suatu teori atau hipotesa baru bisa disimpulkan.













Daftar Pustaka

http://basyrinitinegoro.blogspot.com/2012/09/antropologi-pedesaan-dan-perkotan.html.
http://www.geografi.info/konsep-geografi/konsep-esensial-geografi.html.
Sapriya.2009. Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Soekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.